5 Cara Menanam Bawang Merah Lengkap dan Mudah

Bawang merah diperkirakan berasal dari kawasan sekitar Iran, Pakistan Barat dan Syiria.

Bentuk liar dari tanaman ini tidak diketahui dengan jelas. 

Meskipun demikian, di daerah beriklim sedang di belahan bumi sebelah utara banyak dijumpai jenis-jenis bawang putih dengan aroma menyerupai bawang merah.

Bawang merah merupakan tanaman herba 2 musim yang tumbuh sebagai tanaman semusim (kecuali untuk produksi benih).

Tanaman ini memiliki sistem perakaran yang dangkal, berkembang hanya pada kedalaman sekitar 30 cm dari permukaan tanah. 

Sejumlah akar adventif dengan diameter kurang lebih 1,5 mm tumbuh dari batangnya. 

Jumlah akar bawang merah sangat terbatas. 

Pembentukan akar terjadi secara terus-menerus (3-4 helai perminggu) seiring dengan pertumbuhan tanaman dan dalam waktu yang bersamaan terjadi penuaan dan matinya kaar-akar yang lebih tua. 

Selama masa awal pertumbuhan jumlah akar adventif meningkat, namun begitu umbi menjadi dewasa, akar-akar mati dengan laju yang lebih cepat daripada laju pembentukan akar-akar baru.

Adapun dari cara-cara dalam menanam bawang merah adalah sebagai berikut :


1. Perbanyakan Tanaman dan Penanaman

Bawang merah dapat diperbanyak menggunakan biji yang ditanam langsung ataupun menggunakan umbi sebagai bibit. 

Suhu yang dikehendaki untuk perkecambahan biji adalah 0-35 derajat celcius, perkecambahan memakan waktu sekitar 4 1/2 bulan, namun pada suhu 21-27 derajat celcius (suhu optimum) perkecambahan hanya memerlukan waktu 3-4 hari saja.

Pada perbanyakan menggunakan biji, biasanya bawang merah ditanam pada bedengan dengan jarak 35-45 cm untuk sistem baris tunggal, atau 35-45 cm dalam barisan dan 70-90 cm antar barisan pada sistem ganda. 

Untuk lahan seluas 1 ha, diperlukan sekitar 2,2-3,4 kg benih. 

Benih ditanam pada kedalaman 6 - 12 mm dan tanah hendaknya dipertahankan tetap lembab sampai kecambah muncul.

Apabila diperbanyak menggunakan umbi maka umbi tersebut hendaknya berasal dari tanaman berumur 70-80 hari setelah tanam. 

Berdasarkan ukurannya, umbi untuk bibit digolongkan menjadi :

  1. umbi besar dengan diameter kurang dari 1,8 cm atau bobot lebih dari 10 gram
  2. umbi sedang dengan diameter 1,5-1,8 cm atau bobot 5-10 gram
  3. umbi kecil dengan diameter lebih dari 1,5 cm atau bobot lebih dari 5 gram.
Umbi yang dianjurkan menjadi bibit adalah yang berukuran sedang. 

Umbi berukuran sedang rata-rata terdiri atas 2 siung, sedangkan umbi berukuran besar terdiri atas 3  siung, dan umbi berukuran kecil terdiri atas 1 siung. 


Umbi untuk bibit hendaknya sehat dan segar, bernas (tidak keriput) dan berwarna cerah (tidak kusam), telah disimpan 2-4 bulan sejak dipanen, dan tunasnya sudah sampai ke ujung umbi.

Kebutuhan umbi untuk setiap hektar dapat diperhitungkan berdasarkan bobot umbi bibit dan jarak tanam yang digunakan. 

Misalnya, pada petakan seluas 1 meter persegi dengan jarak tanam 20 x 20 cm dapat ditanam 25 tanaman. 

Dengan demikian, untuk lahan 1 ha dengan efisiensi lahan 65% diperlukan umbi bibit (65% x 10.000 meter persegi) x 25 = 162.500 umbi. 

Apabila umbi bibit yang digunakan berukuran sedang dengan bobot 5-10 gram maka perlu disiapkan bahan umbi bibit sebanyak 812.5-1.625 kg.

2. Persiapan Lahan

Pengolahan tanah bertujuan untuk mendapatkan tanah yang gembur, memiliki drainase dan aerasi yang baik, permukaannya rata dan bersih dari gulma. 

Untuk itu, kira-kira 10-15 hari sebelum tanam, tanah dibajak atau dicangkul beberapa kali sampai gembur sedalam kurang lebih 20 cm. 

Selanjutnya, dibuat bedengan dengan lebar sekitar 1,2 meter, tinggi kira-kira 25 cm, serta panjang sesuai dengan kebutuhan atau kondisi lahan. 


Jarak antar bedengan 50-60 cm dan arah bedengan diupayakan mengikuti arah pergerakan matahari, yakni timur ke barat.

Bersamaan dengan pengolahan tanah (2-3 minggu sebelum tanam), pada tanah-tanah yang bereaksi masam (pH < 5,6) atau lahan  yang telah diusahakan secara intensif perlu dilakukan pengapuran dengan memberikan dolomit dosis 1-1 1/2 ton/ha untuk meningkatkan kesediaan Ca dan Mg. 

Dosis pengapuran ini diperkirakan cukup untuk menjaga pH tanah, agar tetap optimum selama dua musim tanam selanjutnya. 

3. Penanaman

Penanaman umbi bibit di lapangan dilakukan dengan jarak tanam 10 x 20 cm (populasi tanaman per meter persegi) atau 15 x 20 cm (33 tanaman permeter persegi). 

Bobot segar dan bobot kering umbi bawang merah dipengaruhi oleh ukuran umbi bibit dan kerapatan tanaman. 


Bobot umbi tertinggi didapatkan pada penggunaan umbi bibit berukuran besar dengan populasi yang rapat (178 tanaman permeter persegi), tetapi laju peningkatan hasil tersebut mengalami penurunan dengan semakin rapatnya populasi tanaman. 

Umbi ditanam pada kedalaman kira-kira 1/4 bagian hingga setinggi umbi. 

Hindari penanaman yang terlalu dalam untuk menghindari pembusukan umbi. 

Setelah tanam, lahan disiram dengan semprotan yang halus (lembut)

4. Pemupukan

Sebagai pupuk dasar dianjurkan menggunakan pupuk organik berupa kotoran sapi dengan dosis 10-20 ton/ha atau kotoran ayam dengan dosis 4-5 ton/ha. 

Pupuk organik ini diberikan ketika pengolahan tanah atau 2-3 hari sebelum tanam. 

Bersamaan dengan pemberian pupuk organik, diberikan pula pupuk P (SP-36) dengan dosis 200-250 kg/ha atau setara dengan 70-90 kg/ha P2O5 yang disebarkan di permukaan tanah lalu diaduk rata.

Selain pupuk organik dan pupuk P, tanaman perlu juga dipupuk dengan N dan K yang diberikan pada umur 10-15 hari setelah tanam sebagai pupuk susulan pertama dan pada umur 1 bulan setelah tanam.


Sebagai pupuk susulan kedua, masing-masing dengan 1/2 dosis anjuran. 

Adapun dosis yang dianjurkan adalah 150-200 kg/ha N, dianjurkan untuk menggunakan komposisi 1/3 Urea dan 2/3 ZA. 

Pengunaan campuran Urea dan ZA lebih baik dibandingkan penggunaan Urea saja atau ZA saja. Hal ini dikarenakan selain mengandung N (23%), ZA juga mengandung belerang (23%). 

Bawang merah dikenal sebagai salah satu tanaman yang banyak membutuhkan sulfat, yang salah satu penyusunannya adalah belerang (S).

5. Pemeliharaan

Seperti halnya dengan tanaman lain, bawang merah membutuhkan air dalam jumlah yang cukup, terutama pada periode pembentukan umbi dapat berakibat turunnya produksi. 

Selama musim tanam apabila musim kemarau, dianjurkan untuk melakukan penyiraman pagi dan sore hari.

Sedangkan pada musim penghujan, penyiraman cukup dilakukan pagi atau sore hari saja, atau tidak perlu dilakukan penyiraman, tergantung pada kondisi tanah tempatnya tumbuh.


Tindakan pemeliharaan yang lain adalah penyiangan gulma. 

Umumnya, pertanaman bawang merah yang berumur 2 minggu atau kurang, pertumbuhan gulma berlangsung dengan cepat. 

Untuk itu, perlu dilakukan penyiangan secara manual. Penggunaan herbisida sedapat mungkin dikurangi atau bahkan dihindari sama sekali.