Cara Menanam Mangrove atau Bakau Yang Lengkap

Bakau adalah beberapa tanaman atau pohon yang hidup pada ekosistem mangrove. Bakau telah lama dimanfaatkan oleh peduduk untuk berbagai kebutuhan , seperti bahan bangunanan, kayu bakar, obat tradisional, bahan pangan dan lain-lain.

Ekosistem mangrove merupakan mata rantai penting dalam pemeliharaan keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. 

Karena mangrove befungsi sebagai pemijahan (spawning ground), tempat asuhan (nursery ground) dan temapat mencari makan (feeding ground) berbagai jenis hewan akuatik yang mempunyai nilai ekonomi penting. ekosistem mangrove juga berfungsi sebagai habitat berbagai hewan darat dan sebagai penahan intrusi garam ke darat. 

Di samping itu menjadi salah satu biofilter alama yang sangat efektif dalam menanggunlangi pencemaran. Yang tidak kalah penting adalah, hutan mangrove adalah bagian dari hutan tropis yang berfungsi sebagai "paru-paru" dunia.

Karena itu, mulai ada kesadaran masyarakat untuk melakukan penghijauan kembali hutan mangrove yang rusak. Upaya penghijauan tidak hanya mengembalikan ekosistem mangrove, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi. 

Ekosistem mangrove yang pulih merupakan habitat berbagai biota air maupun biota darat yang dapat dikonsumsi, seperti ikan, udang, bulu babi, kerang, siput dan burung. 

Kayu atau pohon yang ditanam dan telah mencapai ukuran besar juga dapat dijual sebagai bahan bangunan, kayu bakar, dan arang. Keuntungan ekonomi lainnya diperoleh dari penjualan bibit kayu bakau.

A. Ekosistem Mangrove

Mangrove merupakan suatu tipe hutan tropik dan subtropik yang khas, tumbuh disepanjang pantai atau muara suangai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang landai. 

Mangrove tumbuh optimal di wilayah pesisir yang memiliki muara air yang besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur.

Ada lima faktor utama yang mempengaruhi zonasi mangrove dikawasan pantai tertentu, yaitu

  1. Gelombang yang menentukan frekuensi tergenang.
  2. Salinitas yang berkaitan dengan hubungan osmosis mangrove.
  3. Substrat
  4. Pengaruh darat, seperti aliran air masuk dan rembesan air tawar.
  5. Keterbukaan terhadap gelombang, yang menentukan jumlah substrat yang dapat dimanfaatkan.
Mangrove tumbuh baik di pantai berlumpur yang terlindung estuaria dan teluk. Umumnya pohon-pohonnya berbatang lurus dan tingginya dapat mencapai 35-45 meter. 

Di pantai berpasir atau terumbu karang, mangrove tumbuh kerdil, rendah dan batangnya sering kali bengkok.  Daun-daun berbagai jenis tumbuhan dalam hutan mangrove biasanya mempunyai tekstur yang serupa.



Komposisi mangrove berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya, tergantung dari satu lokasi ke lokasi lainnya, tergantung dari keadaan fisiografis pantai dan dinamika pasang surut, sehingga disatu tempat terdapat jalur mangrove yang lebih lebar daripada di tempat lainnya. 

Di sepanjang pantai yang lurus dan tidak berombak, jalur mangrove kebanyakan agak sempit sekitar 25-50 meter.

Akar yang menggantung atau muncul dipermukaan tanah merrupakann akar nafas (pneumatiphore). Akar-akar ini mempunyai liang-liang pernafasan dan mengandung banyak sekali ruang-ruang berisi udara yang berfungsi untuk penyaluran oksigen ke bagian-bagian sistem perakaran yang terdapat didalam tanah. 

Fungsi ini dianggap mempunyai arti yang vital mengingat sifat substrat dan adanya penggenangan yang kerap terjadi.
Pola adaptasi morfologi dan fisiologi tumbuhan mangrove sebagia berikut :
  1. Perakaran yang pendek dan melebar luas, dengan akar penyangga atau tudung akar yang tumbuh dari batang dan dahan, sehingga menjamin kokohnya batang.
  2. Berdaun kuat dan mengandung banyak air.
  3. Mempunyai banyak jaringan internal penyimpan air dan konsentrasi garam yang tinggi. Beberapa tumbuhan mangrove seperti Avicennia mempunyai kelenjar yang mengeluarkan garam pada daunnya, sehingga dapat menjaga keseimbangan osmotik. Tekanan osmotik yang tinggi pada sel daun memungkinkan air laut terbawa keatas dengan kecepatan transpirasi rendah, sehingga mengurangi kehilangan air akibat penguapan.
Setidaknya ada tiga fungsi utama hutan mangrove yaitu sebagai berikut :
  1. Fungsi fisis, meliputi pencegahan abrasi, perlindungan terhadap angin, pencegah intrusi garam dan sebagai penghasil energi serta hara.
  2. Fungsi biologis, meliputi sebagai tempat bertelur dan sebagai asuhan berbagai biota, tempat bersarang burung dan sebagai habitat alami berbagai biota.
  3. Fungsi ekonomis meliputi sebagai sumber bahan bakar (kayu bakar dan arang), bahan bangunan (balok, atap dan sebagainya), perikanan, pertanian, makanan, minuman, bahan baku kertas, keperluan rumah tangga, tekstil, serat sintesis, penyamakan kulit, obat-obatan dan lainnya.

B. Pemilihan Lokasi

Penanaman mangrove dilakukan pada lokasi yang sesuai, baik teknis maupun sosial ekonomis, tidak boleh dilakukan penanaman di sembarangan tempat. 

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain :
  1. Secara alamiah, mangrove tumbuh pada lingkungan berair payau, air agak tenang/ombak tidak terlalu besar atau setidaknya benih mempunyai kesempatan untuk menancap, dan dasar perairan berpasir atau berlumpur.
  2. Kebanyakan kawasan hutan mangrove telah diubah menjadi lokasi tambak, (udang, ikan dan lain-lain), bahkan tidak sedikit yang telah diubah menjadi kawasan permukiman, karena itu penanaman mangrove dilakukan dipinggir pematang tambak, saluran-saluran air keramba, pinggir sungai, parit-parit sekitar pantai dan pinggir laut. Kawasan pantai terbuka, daerah pantai rentan banjir, tambak dan kawasan pemukiman pesisir sebaiknya menjadi prioritas penanaman hutan mangrove.
  3. Masyarakat pesisir lebih mengetahui lokasi atau daerah yang harus diprioritaskan untuk ditanami. Oleh sebab itu, lokasi sebaiknya ditentukan oleh masyarakat sendiri. Ini sangat diperlukan, karena selama ini pemerintah maupun LSM sering menggunakan otoritasnya dalam menentukan lokasi.
  4. Masyarakat pesisir lebih mengetahui jenis mangrove yang tumbuh pada pantai tertentu.
  5. Terrutama, penanaman mangrove yang merupakan program pemerintah perlu melibatkan masyarakat sejak perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi.

C. Benih Bakau

Benih atau bibit bakau yang dipilih untuk ditanam disesuaikan dengan  lokasi yang dipilih. Bila tanaman hendak ditanam di daerah terbuka bersalinitas tinggi menghadap laut yang dasar perairannya berpasir atau berlumpur maka digunakan jenis Sonneratia alba dan api-api (Avicennia marina dan A. alba). 

Sonneratia cenderung hidup pada tanah yang berlumpur lembut dan api-api pada tanah yang berpasir agak keras. Tanaman ini dipilih karena merupakan tanaman pionir yang tahan terhadap salinitas tinggi dan terpaan ombak serta arus yang kuat. 

Di belakang tanaman ini masih dapat ditanam api-api (Avicennia marina dan A. alba) yang merupakan tanaman umum di daerah tergenang. Di daerah yang hanya tergenang bila terjadi pasang tertinggi dapat ditanam bakau (Rhizophora sp), Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops sp.


Bibit dikumpulkan dari alam. Bibit harus dipilih dari tanaman yang sudah berusia tua karena bibit pada tanaman muda berkualitas rendah. Untuk jenis bakau (Rhizophora sp) dipilih dari tanaman yang telah berumur 8-10 tahun. 

Biji bakau yang sudah tua berwarna hijau tua atau kecoklatan dengan memanjang. Sementara api-api yang mencapai umur 5 tahun keatas menghasilkan bibit yang baik. Biji api-api yang sudah tua berwarna coklat kekuningan. 

Pengumpulan bibit dilakukan pada waktu yang tepat, biasanya penduduk pesisir terutama mereka yang berprofesi sebagai nelayan mengetahui dengan baik puncak musim berbuah beberapa jenis tanaman di hutan mangrove. 

Bakau (Rhizophora sp) berbuah pada bulan Juli - Agustus, sedangkan api-api pada bulan September - November.

Bibit yang berasal dari buah tanaman mangrove dapat langsung ditanam pada lokasi yang telah dipilih atau dilakukan persemaian hingga mencapai umur 3-4 bulan baru dilakukan penanaman untuk jenis bakau (Rhizophora sp) dan 5-6 bulan untuk jenis api-api (Avicennia marina sp). 

Penanaman dengan menggunakan bibit yang terlebih dahulu melalui persemaian akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi/lebih cepat.

Persemaian di lakukan di sekitar lokasi penanaman pada tanah yang datar. Lokasi persemaian akan lebih baik apabila lebih sering terendam air pasang atau kira-kira pasang terjadi 20 kali/bulan. 

Ukuran tempat atau bedeng persemaian tergantung pada kebutuhan jumlah bibit yang akan disemaikan. Bentuk dan ukurannya bervariasi, tetapi ukuran yang lazim digunakan adalah 5 x 1 meter yang dapat menampung sekitar 1200 kantong plastik (polybag) yang berukuran 15x20 cm. 

Kantong plastik (polybag) diisi tanah lumpur dari sekitar persemaian, kemudian biji tanaman mangrove langsung disemaikan didalam kantong plastik. 

Bedeng persemaian dapat diberi atap daun nipah, alang-alang atau daun kelapa dengan ketinggian 1-2 meter. Bedeng persemaian dapat pula dibuat dengan mencangkul tanah dengan kedalaman 5-10 cm atau tanah yang datar diberi batas berupa bambu agar kantong plastik tidak jatuh.

D. Penanaman Bakau

Penanaman tanaman bakau sebainya dilakukan pada saat air laut surut agar mudah mengatur jarak dan keseragamannya. Untuk lokasi penanaman yang terletak dibibir laut terbuka penanaman tidak dilakukan pada musim ombak besar. 

Ini dimaksudkan agar bibit tidak hanyut terbawa ombak.
Sebelum penanaman perlu dipersiapkan peralatan yang digunakan. Peralatan tersebut antara lain :
  1. Tali pengatur jarak, yang digunakan untuk mengatur jarak antar tanaman serta jalur tanaman menjadi lurus. Tali pengatur jarak dapat berupa tali rafia/plastik atau tali lainnya yang berukuran panjang 10-20 meter. Kedua ujung tali ini diikat dengan sepotong bambu atau kayu dan pada jarak tanam yang diinginkan diberi tanda (cat atau tali plastik yang diikat) sebagai titik penanaman.
  2. Ajir, yakni digunakan untuk penanaman pada pantai yang menghadap laut lepas yang ombaknya cukup besar. Bibit diikat ke ajir agar bibit tidak hanyut dibawa ombak. Ajir juga dapat digunakan untuk penanaman disungai atau saluran air sebagai tanda adanya tanaman baru. Ajir dapat dibuat dari kayu atau bambu.
  3. Tugal atau suwan, yaitu digunakan untuk membuat lubang tanaman dan dibutuhkan sewaktu menanam di tanah berlumpur yang agak keras. Tugal dapat dibuat dari kayu atau bambu bulat.
  4. Ember atay parang. Ember digunakan untuk mengangkut bibit/benih pada saat penanaman, sedangkan parang digunakan untuk membersihkan tumbuhan liar atau ranting.
Pada saat penanaman bibit, jarak tanaman didasarkan pada lokasi dan tujuan penanaman. Untuk perlindungan pantai dari abrasi, jarak tanamannya sebaiknya 1 x 1 meter. 

Untuk melindungi tanggul, jarak tanaman antara 1 - 1,5 meter. Apabila ingin menyediakan jalan bagi penjala, pencari udang atau kepiting, maka jarak antar tanaman diperbesar menjadi 2 meter atau 2 x 2 meter. 


Penanaman di tengah tambak (khusus tambak bandeng), jarak tanaman dapat 1,5 x 1,5 meter, 2 x 2 meter atau 2 x 3 meter. Setelah tanaman membesar, dapat dijarangkan menjadi 3 x 3 meter atau sesuai dengan keinginan.

Penanaman bakau dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penanaman dengan buah dan penanaman dengan bibit/benih dari hasil perrsemaian. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan :
  1. Penanaman buah. Pada daerah yang berlumpur, lembek atau dalam sekitar sepertiga dari panjang dan benih atau buah ditancapkan ke dalam lumpur secara tegak dengan bakal kecambah menghadap ke atas. Apabila lumpur agak keras, terlebih dahulu dibuat lubang kemudian benih dimasukkan ke dalam lubang secara tegak. Ajir dapat dipakai untuk melindungi benih/buah supaya tidak terbawa ombak dengan cara mengikatkan benih pada ajir.
  2. Penanaman dengan menggunakan bibit hasil persemaian. Untuk menanam bibit ini, terlebih dahulu membuat lubang, kemudian kantong plastik (polybag) dilepaskan secara hati-hati agar tidak merusak akar bibit. Bibit dimasukkan ke dalam lubang secara tegak sebatas leher akar dan ditutup dengan lumpur kembali. Ajir dapat dipakai untuk melindungi bibit agar tidak dibawa ombak, caranya dengan mengikatkan bibit pada ajir.

E. Pemeliharaan Tanaman

Setelah ditanam, tanaman bakau butuh pemeliharaan agar pertumbuhannya optimal, sehingga lebih cepat berfungsi sesuai dengan yang diinginkan. 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tanaman bakau tidak tumbuh optimal, baik berupa hewan pengganggu maupun aktivitas manusia.

Hewan

Beberapa hewan dapat merusak tanaman bakau yang baru tumbuh, antara lain adalah :
  1. Kepiting/ketam. Kepiting atau ketam menyerang tanaman bakau yang berumur 1 tahun dengan cara menggigit batang anakan bakau secara melingkar sehingga suplai makanan terputus. Cara mengatasinya yaitu : a) melakukan penanaman bibit/benih ganda (2 batang sekaligus) dalam satu lubang agar kepiting kesulitan memanjat dan menggigit batang yang rapat itu. b) bibit/benih ditanam banyak dan rapat. c) bibit dibungkus dengan bambu.
  2. Kambing. Kambing biasanya memakan tanaman bakau yang sudah berdaun dan yang sudah berpangkal daun. Akibatnya tanaman tidak dapat menghasilkan daun kembali lalu mati. Cara mengatasinya yaitu, membuat kesepakatan di antara warga agar tidak melepaskan kambing ke areal penanaman, menentukan daerah penggembalaan/kambing digembalakan pada daerah tertentu.
  3. Hama. Jenis hama yang ditemukan adalah kutu lompat (mealy bug). Kutu lompat menyerang seperti tumbuhan parasit. Keberadaannya mengubah daun bakau menjadi kuning, kering lalu rontok, dan tanaman bakau kemudian mati. Penanggulangannya dilakukan dengan pemusnahan tanaman yang terkena serangan hama ini.


Aktivitas Manusia

Selain hewan, beberapa aktivitas manusia juga dapat mengganggu tanaman bakau, antara lain :
  1. Menjala ikan. Bibit bakau tersangkut dan tercabut sewaktu jala diangkat dari air. Selain itu, si penjala secara tidak sengaja dapat menginjak bibit/benih.
  2. Menyudu udang. Si penyudu dapat mencabut bibit/benih apabila merasa terganggu sewaktu melakukan penyuduan atau secara tidak sengaja menginjak bibit/benih apabila penyuduan dilakukan malam hari.
  3. Mencari kepiting. Mencari kepiting pada siang hari dengan membongkar lubang kepiting dapat mencabut bibit bakau, sedangkan bila mencari kepiting dilakukan pada malam hari dapat mengakibatkan tanaman terinjak secara tidak sengaja oleh pencari kepiting.
  4. Penambat perahu. Nelayan yang menambatkan perahunya di sekitar penanaman, serta berjalan keluar masuk menuju ke perahunya dapat merusak tanaman. Tidak jarang pula para nelayan menaikkan perahunya ke darat apabila musim barat atau ombak besar sehingga merusak tanaman di sekitarnya.
  5. Berwisata/berekreasi. Orang yang berwisata atau berekreasi di pantai sekitar penanaman bakau dapat merusak tanaman dengan cara mencabut atau menginjak dengan sengaja atau tidak.

Pemangkasan dan Penjarangan

Selain penanggulangan aktivitas hewan dan manusia untuk memberi ruang bagi pertumbuhan yang opstimal bagi tanaman bakau, juga dilakukan pemeliharaan tanaman. 

Beberapa aktivitas pemeliharaan tanaman yang perlu dilakukan diantaranya :
  1. Penyiangan, yaitu dengan menebas atau mencabut tanaman pengganggu seperti tumbuhan paku-pakuan dan sebagainya, agar memberikan ruang yang cukup bagi tanaman bakau yang baru tumbuh agar mudah mendapatkan udara, sinar matahari dan makanan yang cukup.
  2. Penyulaman, yaitu dengan mengganti tanaman mangrove yang mati. Penyulaman dapat dilakukan dengan menggunakan bibit dari persemaian atau buah. Jika digunakan bibit dari persemaian maka sebaiknya tanaman pengganti seumur dengan tanaman yang digantikan agar umur dan pertumbuhan tanaman seragam.
  3. Pemangkasan tanaman dilakukan untuk merapikan tanaman. Pemangkasan dilakukan terhadap tanaman yang dtanam di pinggir tambak, pinggir sungai atau saluran air. Biasanya pemangkaan dilakukan terhdap tanaman yang telah berumur 5 tahun ke atas. Tujuannya adalah untuk membuat pohon kelihatan rapi, memudahkan melihat orang ditambak terutama pada malam hari.
  4. Penjarangan tanaman dilakukan dengan menebang sebagian pohon mangrove untuk memberi ruang tumbuh yang baik bagi pohon yang lainnya. Penjarangan biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 5 tahun ke atas. Penjarangan terhadap tanaman di tengah tambak sebaiknya dilakukan untuk memperluas ruang budidaya sekaligus memperkecil resiko pembusukan di dalam air akibat sirkulasi air tidak lancar.