Cara Menanam dan Memelihara Tanaman Buah Dalam Pot

Kali ini kami akan membahas bagi anda yang ingin menanam dan memelihara tanaman buah dalam pot. 

Selain praktis, cara bertanam ini juga tidak membutuhkan lahan yang luas.

Anda dapat menanam di halaman atau di pekarangan anda. Sehingga anda dapat menikmati hasil tanaman anda dengan mudah.

a. Pemilihan Bibit

Salah satu kunci keberhasilan menanam tanaman buah adalah pemilihan varietas bibit yang tepat, sesuai dengan kondisi lingkungan seperti suhu dan ketinggian lokasi pemeliharaan tanaman buah.

Secara umum, bibit dapat diperoleh secara generatif dan vegetatif. 

Bibit yang diperoleh secara generatif adalah bibit yang berasal dari biji. Misalnya, lengkeng, nangka, pepaya dan beach cerry.

Sementara itu, bibit yang diperoleh secara vegetatif berasal dari perbanyakan cangkok, okulasi, stek, dan sambung. 

Misalnya, mangga, anggur, tin, sirsak, delima, jambu air dan putsa.



Tips memilih bibit tanaman buah

1. Sebaiknya, beli bibit di tempat penangkar bibit tau nursery yang sudah terpercaya. Pastikan kebenaran varietas bibit tanaman yang dipilih. Pasalnya, beberapa penangkaran ada yang menjual bibit yang tidak jelas asal usulnya.

2. Jika menginginkan tanaman lebih cepat berbuah, pilih bibit tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif.

3. Pilih bibit tanaman yang telah berumur di atas 6 bulan dengan ketinggian 40 sampai 70 cm.

4. Pilih bibit yang terlihat sehat, memiliki cabang yang banyak, memiliki daun yang hijau segar, serta bebas dari hama dan penyakit.

a. Bibit Generatif

Bibit yang berasal dari biji biasanya hanya digunakan untuk tanaman buah yang tidak mungkin atau sulit dibiakkan secara vegetatif. 

Bibit dari perbanyakan generatif sebenarnya jarang digunakan karena memiliki sifat-sifat yang kurang menguntungkan.

Sifat bibit generatif diantaranya membutuhkan waktu yang lama untuk berbuah, belum tentu memiliki sifat yang sama dengan induknya, dan setelah lama ditanam baru dapat diketahui sifat-sifatnya. 

Beberapa jenis tanaman buah yang kerap diperbanyak secara generatif di antaranya pepaya, beach cherry, dan jaboticaba.

b. Bibit Vegetatif

Bagian tanaman buah yang digunakan untuk perbanyakan vegetatif biasanya akar dan batang. 

Bibit yang berasal dari perbanyakan vegetatif lebih sering dipilih dan digunakan dibandingkan dengan bibit yang berasal dari perbanyakan generatif. 

Pasalnya, bibit vegetatif memiliki berbagai keunggulan, seperti lebih cepat berbuah, memiliki sifat yang sama dengan induknya, dan memiliki tajuk yang lebih kecil atau pendek.

Jika anda ingin melakukannya sendiri pembibitan tanaman buah, beikut cara perbanyakan vegetatif yang kerap digunakan.

1. Bibit setek 

Bibit setek merupakan bibit vegetatif yang diperoleh dengan cara memperbanyak bagian tanaman yang mampu membentuk akar secara cepat, seperti batang, daun, dan akar. 

Teknik penyetekan relatif paling praktis karena hanya menancapkan potongan bagian tanaman ke media.

Kelebihan setek yaitu sifat unggul tanaman induk dapat menurun dengan sempurna pada tanaman baru. Selain itu, buah yang dihasilkan umumnya bermutu serupa dengan induknya.

2. Bibit cangkok

Perbanyakan secara cangkok dapat membuat tanaman lebih cepat menghasilkan buah dan mampu menurunkan sifat unggul dari tanaman induk. 

Teknik cangkok dilakukan dengan cara membuat keratan di batang atau cabang tanaman induk. Setelah itu, bersihkan atau kerik lapisan kambiumnya. 

Balut hasil pengeretan dengan media cangkok, lalu bungkus dengan plastik atau sabut kelapa. Setelah itu, ikat bungkusan nya dan biarkan selama 4-8 minggu. 

Keberhasilan proses pencangkokan ditandai dengan keluarnya akar.

3. Bibit sambung

Bibit sambung diperoleh dengan cara menggabungkan dua batang tanaman yang disatukan menjadi satu pohon. Dalam teknik ini diperlukan batang bawah dan batang atas.

Ada beberapa teknik sambung yang sering dilakukan yaitu sambung pucuk, sambung susu, dan sambung sisip.

- Sambung pucuk

Teknik sambung pucuk dilakukan dengan cara menyelupkan potongan entres (batang atas) varietas unggul pada batang bawah yang berasal dari biji. 

Caranya, sayat entres (batang atas) di kedua sisi, sedangkan batang bawah perlu di belah. Selipkan batang atas di bekas belahan, lalu ikat dengan plastik. 

Tutup dengan plastik es lilin agar tidak terkena air.

- Sambung susu

Teknik sambung susu merupakan teknik penyatuan batang bawah dari biji dengan batang atas dari indukan yang berkualitas dengan cara disusukan. 

Caranya, sayat batang bawah di kedua sisi, lalu pilih dan belah batang atas yang seukuran dengan batang bawah.

Pada belahan ini, sisipkan batang bawah dan ikat dengan plastik sehingga keduanya menyatu. Sekitar 2-3 bulan, proses disambung susu akan menghasilkan individu yang baru.

- Sambung sisip

Teknik sambung sisip adalah teknik sambung dengan cara menyisipkan potongan entres (batang atas) di salah satu sisi batang bawah. 

Teknik ini merupakan modifikasi dari teknik okulasi atau tempel mata.

Caranya, sayat satu sisi batang atas sepanjang 2-3 cm, lalu sayat batang bawah dan buang kulitnya sepanjang 3-4 cm. Sisipkan batang atas ke batang bawah hingga kedua sayatan menyatu. 

Setelah itu, ikat seluruh entres dengan plastik agar terhindar dari air.


4. Bibit Okulasi

Teknik perbanyakan secara okulasi hampir sama dengan sambung tetapi bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai batang atas adalah mata tunas. 

Mata tunas diambil dari tanaman unggul dan sehat.

Cara okulasi yaitu dengan menempelkan mata tunas ke batang bawah yang sebelumnya telah disayat seluas bahan mata tunas yang akan ditempel. 

Setelah itu, lilit mata tunas dengan plastik hingga melekat kuat dan terlindung dari air. 

Jika tunas baru telah tumbuh, menandakan proses okulasi berhasil.

Penanganan Awal Bibit Sebelum Tanam

Jika kita membeli bibit dari penangkar yang terpercaya, perlu dilakukan penanganan awal yang tepat sebagai berikut :

1. Simpan bibit tanaman yang baru dibeli di tempat yang teduh dan tidak terpapar sinar matahari langsung sekitar satu minggu.

2. Sebelum tanam, biarkan bibit berada di dalam polybag selama dua minggu sebagai upaya penyesuaian lingkungan baru.

Pemilihan Wadah Pot

Cara menanam tanaman buah dalam pot relatif mudah dan praktis. 

Selain penyediaan bibit, pemilihan jenis pot yang tepat merupakan salah satu hal yang menentukan dalam menanam tanaman buah di dalam pot.

a. Ukuran Pot

Hal terpenting dalam pemilihan pot adalah ukurannya. 

Pastikan ukuran pot tidak terlalu besar atau terlalu kecil, menyesuaikan ukuran bibit yang ditanam, dan mulut pot tidak terlalu lebar menyamping, tetapi memanjang ke bawah.

Ukuran lebar mulut pot sebaiknya tidak berbeda jauh dengan lebar tajuk tanaman agar terlihat proporsional. 

Bentuk pot yang memanjang ke bawah sangat dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan akarnya. 

Jika ukuran pot tidak proporsional dengan ukuran tanaman nya, akar tanaman akan tumbuh berdesakan serta penyerapan air dan hara terganggu.

b. Jenis Pot

Pilihan wadah untuk menanam tanaman buah dalam pot dapat berupa pot dari plastik., kayu, atau drum bekas. 

Selain pot plastik atau drum bekas, wadah tanam saat ini juga banyak menggunakan kantong tanam (planter bag). 

Kantong tanam ini menggunakan bahan plastik polietilen yang lebih lentur, awet, dan murah.

c. Bagian-bagian pot yang harus diperhatikan

Saat memilih pot, bagian-bagian dari pot juga tidak boleh luput untuk diperhatikan, seperti lubang pembuangan air dan kaki penopang pot. 

Bagian bawah pot harus memiliki lubang pembuangan kelebihan air yang cukup dan memiliki penopang atau titik berpijak yang rata, seperti alas dari hebel atau batu bata. 

Selain untuk berdiri, adanya penopang pot juga berfungsi agar dasar pot tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah sehingga kelebihan air penyiraman nantinya dapat leluasa keluar dari dalam pot.

Penanaman Tanaman Buah

a. Persiapan media tanam

Salah satu media tanam yang harus ada adalah pupuk. Pupuk memiliki peran dalam pertumbuhan tanaman buah, terutama merangsang pembungaan dan mempercepat panen buah. 

Pupuk harus mengandung unsur hara makro, unsur hara mikro dan nutrisi lainnya. Pupuk yang digunakan dalam media tanam umumnya adalah pupuk kandang atau kompos.

Selain pupuk, media tanam biasanya juga berisi campuran tanah, pasir dan sekam bakar.

b. Penanaman Bibit

Langkah penanaman bibit ke dalam pot hampir sama dengan penanaman di kebun. Proses penanaman sebaiknya dilakukan di tempat teduh atau ternaungi.

Alat dan bahan yang harus disiapkan diantaranya pot, media tanam, bahan penyaring tanam, dan gembor untuk penyiraman awal.

1. Masukkan pecahan genting atau styrofoam ke dalam dasar pot.
2. Campur bahan media tanam berupa tanah, pupuk kandang dan sekam bakar, sesuai komposisi yang diinginkan. Aduk hingga tercampur rata, lalu masukkan ke dalam pot hingga sepertiga bagian pot terisi.
3. Keluarkan bibit tanaman dari polibag tersebut. Usahakan media polibag tidak hancur dan tetap terbawa bersama akar tanaman.
4. Isi ruang yang masih kosong di dalam pot dengan media tanam hingga setinggi 1-2 cm dari bibir pot, lalu padatkan.
5. Siram bibit dengan air secukupnya.

Pemeliharaan tanaman buah

Untuk memperoleh hasil panen yang cepat dan optimal, lakukan pemeliharaan secara intensif. 

Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan, pemangkasan, serta pengendalian hama dan penyakit.

a. Penyiraman

Tanaman memerlukan air sebagai pemicu pertumbuhan. Lakukan penyiraman dua kali sehari pada pagi dan sore hari, kecuali turun hujan.

Pada musim kemarau perlu dilakukan penyiraman lebih sering agar tanaman tidak mengalami kekeringan.

Selain itu, saat menyiram sebaiknya seluruh bagian tanaman ikut tersiram agar debu-debu yang menempel dapat terbilas dengan air.

Jangan dilakukan penyiraman saat terik siang hari untuk menghindari efek daun terbakar.

b. Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk memberikan suplai unsur hara tambahan pada tanaman. Pada proses pemupukan tanaman buah digunakan kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik .

- Pupuk Organik

Pupuk organik untuk tanaman buah biasanya berupa pupuk kandang yang berasal dari kotoran kambing atau sapi. Pupuk kandang diberikan saat persiapan media tanam dan selama pemeliharaan.

Selama pemeliharaan, pemberian pupuk kandang dilakukan setiap 3-6 bulan sekali, sejak bibit tanaman buah pertama kali di tanam, atau setelah media tanam terlihat berkurang.

- Pupuk Anorganik

Pupuk anorganik untuk tanaman buah berupa pupuk majemuk NPK dan pupuk tunggal, seperti urea, SP36 dan KNO.

Pemberian pupuk anorganik dimulai pada bulan ke 4 setelah bibit ditanam dengan memberikan pupuk NPK 15 : 15 : 15 dengan dosis 50-75 gram atau setara 3-5 sendok makan.

Ulangi perlakuan ini setiap 2-3 bulan sekali hingga tanaman berumur satu tahun. Setelah berumur lebih dai setahun, tingkatkan dosisnya menjadi 100-250 gram per tanaman.

c. Pemangkasan

Tujuan pemangkasan yang utama adalah untuk mengoptimalkan pertumbuhan dengan cara membuang bagian tanaman yang dianggap merugikan.

Bagian tanaman yang dipangkas dapat berupa daun, cabang, ranting atau bagian yang lain dari tanaman yang terserang hama dan penyakit.

     1. Pemangkasan ringan

Pemangkasan ringan bertujuan untuk memacu pertumbuhan vegetatif. Caranya, dengan membuang cabang atau ranting yang tidak produktif.

     2. Pemangkasan sedang

Pemangkasan sedang untuk mendapatkan tajuk tanaman yang tidak terlalu tinggi, yang beresiko menghambat pengiriman hasil fotosintesis dari akar tanaman.

Pemangkasan sedang juga bertujuan agar seluruh bagian tanaman tetap sehat dengan masuknya sinar matahari atau air hujan ke setiap bagian tanaman.

d. Pengendalian hama dan penyakit

Tanaman buah sejatinya tidak dapat lepas dari resiko serangan hama dan penyakit. 

Jenis hama yang sering menyerang tanaman buah diantaranya ulat, lalat buah, kutu daun, semut, belalang codot dan kumbang.

- pencegahan

Dalam menangani hama dan penyakit pada tanaman buah, tindakan pencegahan lebih diutamakan.

Tindakan pencegahan untuk menghalau hama dan penyakit dilakukan dengan pemeliharaan dan pengecekan secara rutin, khususnya jika hanya memiliki  satu atau kurang dari delapan jenis  tanaman buah.

- Pengendalian secara manual

Jika tanaman sudah terindikasi serangan hama dan penyakit, segera lakukan tindakan pengendalian secara manual.

Misalnya, membuang atau memangkas bagian yang terserang secara manual dan membersihkan gulma atau tanaman mengganggu secara rutin.

- Pengendalian menggunakan pestisida

Penyemprotan pestisida dapat dilakukan dua minggu sekali hingga hama hilang. 

Pengendalian hama dengan pestisida harus dilakukan secara ekstra hati-hati, jangan sampai terkena buah, makanan dan terhindar dari kontak dengan anak-anak.

Segera cuci tangan setelah melakukan penyemprotan pestisida. Aplikasi pestisida sebaiknya diikuti dengan penyemprotan pupuk daun agar tanaman tetap tumbuh dengan baik.

Demikian penjelasan tentang cara menanam dan memelihara tanaman buah dalam pot. Semoga bermanfaat untuk anda. Terima kasih.